Anya itu seorang anak yang sangat well organized. Hal ini kelihatan dari sikapnya sehari-hari. Anya paling tidak bisa melihat sesuatu tidak pada tempatnya. Misalnya, kalau dia lihat laci lemari tidak tertutup, maka tanpa disuruh, dia akan menutup laci tersebut. Contoh lain lagi, kalau dia melihat kertas/buku/peralatan sekolahnya tergeletak di tempat yang tidak sesuai, maka dia juga akan mengembalikannya (bawaannya beberes terus..hehehe).
Anya juga selalu 'menegor' kita, bila menurutnya apa yang dia lihat 'tidak benar'. Contohnya, pernah gw pake kaos laki gw. Terus, dia langsung negor gw. Katanya, "Ma, itu khan kaos Papa. Kok Mama pake?" atau juga sendal kami (gw dan laki gw punya size baju dan sepatu yang cuma beda 1 nomor doang..hehehe). Kalau negornya diantara kami sih gak apa2, tapi pernah Anya melakukan itu pas lagi banyak orang lain. Jadi rada tengsin juga. Hehehe...
.
Kebalikan dari Anya, Abel adalah seorang anak yang cuek abisss. Dia bisa nggak ngeh..barang2nya masih ada atau sudah hilang. Pernah, Abel tidak ingat membawa pulang seragam Taekwondo-nya dari sekolah. Abel melenggang pulang dan meninggalkan baju seragamnya di tempat dia ganti baju! Begitu sampai rumah, seperti biasa, Nining, pembantu kami yang biasa mengecek tasnya, bertanya dimana baju Taekwondo-nya. Disitulah Abel baru sadar. Waktu gw suruh dia ikut ke sekolah bersama Nining, mengambil baju Taekwondo tersebut, Abel nggak mau. Rupanya dia malu..ketahuan teledor dan takut diledekin teman2nya kalau ketemu mereka, ketika ngambil baju Taekwondo. Hhhh...
Perbedaan Abel dan Anya sangat menyolok dalam soal habit dan self drive. Dalam hal belajar juga demikian. Sejak berumur 4 tahun, Anya sering bertanya sesuatu itu bahasa Inggris-nya apa. Hal ini membuat kemampuan bahasa Inggris Anya (terutama dalam vocab) sama dengan Abel, yang lebih tua 4 tahun darinya. Tak jarang, ketika Abel mau menghadapi ulangan harian (bahkan ulangan mid/semesteran), Anya - yang selalu lebih dulu selesai belajar - bertindak sebagai orang yang mengetes abangnya! Anya akan memegang buku pelajaran Abel, lalu mendiktekannya ke Abel..hehehe..
Kami sadar, bahwa kami tidak boleh membandingkan anak2 kami satu sama lain. Karena setiap anak adalah unik. Kami juga yakin, bahwa Abel itu tidak bodoh, hanya kesadarannya saja yang belum muncul. Meskipun kalah rajin dalam hal belajar, kemampuan seni Abel sangat menonjol. Dia bisa melukis dengan detail dan sudah bisa menulis cerpen! Sampai saat ini, Abel sudah menulis 10 buah cerpen (walaupun ceritanya masih tentang Ranger2an). Gw bahkan 'kagum' dengan konsentrasinya, ketika menulis. Pernah suatu hari, Abel duduk di depan komputer berjam-jam, tanpa bosan - dan dengan muka serius - menulis salah satu cerpennya.
Abel dan Anya adalah anugerah terbesar dalam hidup kami. Gw dan laki gw, bersyukur untuk anak2 kami ini. Pe er kami masih panjang...karena kami harus bisa mendidik mereka sesuai dengan kehendak Tuhan..